confirmed

confirmed.

I am an introvert.

hm

Advertisements

Pelajaran hari ini

Jangan ngejudge, jangan ngejudge, jangan ngejudge…
nge judge, nyakitin orang lain.
nge judge, mbuat saya merasa di pihak yang benar.
nge judge, …

meskipun
di mata nampak benar, cek lagi,
banyak berita yang mampir di telinga, cek lagi,

hmmm
ketika melihat/ meyakini saudara melakukan sesuatu yang nampaknya keliru…,
ada kewajiban untuk memberi nasihat,

ini kewajiban saya pada Allah, atas apa yang saya tau,
saya tidak punya kuasa untu membolak balik hatinya…,

bukan apakah dia berubah parameter utamanya.
tapi niat dan cara saya menyampaikannya, sesuaikah itu dengan apa yang Allah suruh?

kalau tidak,
jangan-jangan,…
jangan-jangan,…

kepeleset lagi saya,

memperjuangkan ini itu, karena saya,
bukan karena Allah.

Astaghfirullaah,

advising or judging???

I think,
it’s not advice nor suggestion that making people getting hurt by.
it’s judgement…,
judging does hurt people,

I was wondering how to distinguish,
then I think, probably this will help

listen more, listen more, and listen more, before say something,
listen for listening, not for replying.
sometimes it tells more, and more efficient in many ways.

remember my old friend told me once:
#words make communication fail

listening more…

there were many times last year, when many things felt so hard.
feels I am all alone,

felt been miss judge etc, frequently, then getting tired easily of all of that.
then, there’s a person, my teacher,

he make his time, not to saying much, but listening more.

he told me:
don’t blame yourself too much, it’s fine if you failed sometimes.
and remember you are not alone, there will always be a family and some friend,
who will not judge you by any decision you’ve been made.
——

and those things,those meeting, I felt,
Allah designed special for me.
for me to restarting my self again.

 

-hirukdanpikuk-

Masa pemilu, hiruk-pikuk nya, belum beres ternyata.

Beberapa bulan sebelum pemilu diselenggarakan social media semacam facebook udah jadi tempat yang tidak nyaman untuk dilirik. Alhamdulillaah, saya nggak twitteran, jadi nggak menambah kepusingan di kepala.

Ada suatu senja, di sepekan sebelum masa pemilu, saya menangis sesenggukan di ruang residen saya di  kampus. bukan karena hasil survey tentang popularitas partai yang saya dukung tentu saja. tapi lebih karena betapa mudah nya orang saling melemparkan kata-kata kebencian, kata-kata provokatif di media sosial. #ini belajar dari siapa sih orang-orang.
Ketika muslim melakukan itu, hal itu lebih menyakitkan lagi. Karena seingat saya Rasulullaah bilang, muslim itu lembut terhadap sesamanya.

Saya tidak anti politik, dan saya sepakat bahwa politik itu medan perjuangan, dan saya mendukung siapapun yang mau berjuang disana, selama itu memang panggilan hati mereka, mungkin itu peran yang Allah siapkan untuk mereka. Tapi itu bukan untuk saya, sampai saat ini saya menemukan diri saya tidak merasa tenang berjuang disana, atau dikait-kaitkan dengan ranah politik, therefore I am not in affiliation with any. 

tapi saya menemukan penjelasan ini tidak cukup untuk teman-teman saya yang entah simpatisan atau apapun, dan berafiliasi dengan partai. penjelasan saya seperti diatas, seringkali membuat mereka memposisikan saya seperti orang yang anti politik, orang yang nampaknya benci dan menganggap politik itu kotor. padahal jelas saya sampaikan saya tidak anti, cuma jangan suruh saya kesana itu bukan passion saya. dan saya tidak suka melakukan sesuatu setengah hati, simple karena saya merasa semua pilihan saya akan saya pertanggung jawabkan.

kalau teman-teman merasa saya salah dengan sikap saya saat ini, do’akan saja, semoga Allah kasih petunjuk yang benar segera,
saya yakin, apa yang temang-teman sampaikan ke Allah untuk saya atau untuk orang-orang yang teman-teman anggap nggak paham, jauh lebih berefek, daripada apa yang teman-teman sampaikan secara langsung.
karena Allah lah yang membolak balikkan hati bukankah?

saya selalu penasaran dengan pertanyaan ini, tentang apa sebenarnya yang teman-teman inginkan?
1. saya ikut teman-teman, mengiyakan, tidak perduli apakah saya paham atau tidak, sepenuh hati atau tidak?
atau
2. saya paham dan sadar dengan apa yang saya lakukan, paham konsekuensi dari perbuatan saya di hadapan Allah?

saya selalu yakin kebenaran itu punya Allah saja, maka tentu saja saya bisa salah, 
do’akan saya, agar Allah tunjukkan kebenaran itu, dan buat itu masuk hati saya, hingga tenang saya menjalaninya,
tanpa keraguan,
yayayayayayaya?

 

 

 

Choice and Decision

Choose and decide is our every second activity, isn’t it? Sometimes, it felt really clear, while other time, or most the time,it felt like, it just happen, go with our life flow. sometimes, we think so hard, other time we take it easy.

but no matter how the process was every second of the life is life changing decision.

 

I always remember, once my brother told me,
“if you make mistake, or have to do something bad, cause some circumstance,
it’s fine, you just have to remember, you will have your session to explain it to Allah later “

#fyuhh, even hard, therefore:

choose and decide,

I tell to my self, to never regret anything,
be as sincere as I can with my decision.
thinking always, whether He will be pleased with this, or not

 

kebaikan

berbuat baik pada orang lain itu baik tentu saja,
jangan lupa luruskan niat, 

tapi, bentuk kebaikan kita pada orang lain belum tentu baik bagi si penerima,
tapi itu kan gak masalah kalau niat kita baik,
(memang ga masalah dan kita in sha Allah tetep dapat pahala dari hal itu)

cuma, memaksakan kebaikan kepada orang lain itu salah-(okay yang ini pendapat saya)
yang baik buat kita belum tentu sama buat orang lain,
dan kalo itu ga sama, ya woles aja lah.
orang ga nerima kebaikan kita bukan berarti dia ga suka dibaikkin atau salah paham,

cuma yaa, ga klop aja gituu
beda.. 
dan itu gapapa kan?? kan ?

kalo kita maksain kebaikan kita ke orang lain,
ini sebenarnya baiknya buat siapa?
buat kita kah? 

ketika dulu ini kejadian sama saya
saya nyoba ngroscek,
ah ternyata banyak hal yang menurut saya baik, dan saya lakukan untuk orang lain,
sejatinya bukan buat orang lain, tapi buat saya sendiri,

sekarang mencoba berhenti, 
memaksakan sesuatu yang menurut saya baik ke orang lain.
khawatir itu berubah jadi keegoisan saya tentang sesuatu yang menurut saya baik.