[lagi beberes HD ext, nemu tulisan lama]
——————————————————–
Beberapa hari yang lalu, tepatya senin 12 April 2010, saya berdiskusi santai dengan kaprodi saya (serasa masih mahasiswa
), kaprodi Teknik Elektro, Bapak Yudi Satrio Gondokaryono. Beliau membagi banyak pengalamannya, perjalanan beliau jadi engineer.
Diskusi sebenernya diawali dengan pertanyaan ringan,seputar kebingungan saya pengen ngelanjutin kuliah dengan kebutuhan masyarakat saat ini dari seorang anak bangsa yg berpofesi sebagai engineer, ini sebagian hasil diskusinya:
kita harus ngebedain antara mana yang kita inginkan dan apa yang masyarakat butuhkan. Untuk jadi seorang engineer harusnya kita g perlu ngitung berapa banyak temuan kita, tapi berapa banyak masalah yang kita selesaikan. Ketika masih jadi mahasiswa kita memang di encourage untuk berkreasi sebebas2nya, imajinasi kita dibebaskan, namun kalau ingin jadi engineer sebenarnya tempatnya bukan di kampus, tapi d luar sana. Menyelesaikan permasalahan yag sesungguhnya.
Kita harus punya idealitas, tapi jangan naïf dengan kondisi yang ada. Maju terus aja semuanya berproses, dan setiap orang punya jalan dan tahapan masing2. Kadang kita seringkali ga sabaran, ingin lihat dan dapat hasil dengan cepat, padahal semuanya ada waktunya. Kesalahan itu cuma ada di persepsi kita, sesuatu yang salah belum tentu buruk untuk kita, bias jadi itu memang tahapan yang harus kita lewatin.
Ga masalah pindah2 bidang, itu hal biasa, dalm berproses, kita harus nemuin dan nentuin bidang yang bener2 passion kita, dari dalam diri, yang akan membuat kita tetap bertahan dalam kondisi apapun, itu internally.
—–
Hal lain yang sangat saya ingat, ketika beliau bilang “satu2nya hal yang membuat saya bertahan disini itu cuma satu, karena saya sayang sama kalian, itu aja.“ ..
Humm pernyataan beliau ini, sama sekali g gombal, insyaAllah. Saya rasa semua mahasiswa yang pernah kenal beliau, pernah masuk kelas beliau, (atau anak2 KPRG
) bisa merasakan hal ini.Beberapa hari setelah diskusi itu saya masih suka ingat waktu diskusi sm beliau, semangat tiap kali ingat diskusi itu, saya masih terus mikir2 kenapa ya…, berpikir, dan mencoba menyimpulkan, saya Cuma bias bilang memiliki dosen-dosen seperti beliau, membuat mahasiswa merasa aman (makanya judulnya “feel safe”). Merasa aman buat berkreasi, merasa ada yang akan menjaga, akan melindungi dari bahaya, ada yang ngingetin saat salah dan lain2.
Ada kalanya mahasiswa salah, aneh, males, ada saatnya dosen marah, persis kaya orang tua sama anaknya .rasa sayang antara satu sama lain, bikin semuanya berbeda -tiap orang punya kesimpulan masing2 tentang ini- .
Ini adalah salah satu hal, yang selalu membuat saya merasa bersyukur, diberi kesempatan sama Allah sekolah di Teknik Elektro ITB, mengenal orang-orang hebat, ketemu dosen2 luar biasa, Staf-staf Teknik elektro yang ramah, kekeluargaan dan g pernah memperumit birokrasi
Always feel grateful, for 4.5 years experience in Electrical Engineering.
Thank You Allah, You always have beautiful ways to teach me,
bersyukur sekali punya dosen dan kaprodi seperti beliau, percakapan seperti itu jg pernah sy rasakan sendiri. salut pokoknya…
feel safe yak